Senin, 12 November 2012

Tips & Trik Handal Bermain Golf

Lapangan golf sekarang makin menjadi industri yang menggiurkan. Lihat saja, di Indonesia saat ini sudah lebih dari 80-an lapangan dioperasikan. Mulai dari yang memiliki hanya 9 holes sampai yang sudah menyediakan 36 holes. Bahkan ada juga driving range yang menyediakan 9 holes hanya green-nya saja untuk orang dapat berlatih pitching dan putting. Dari sebelah Barat di kota Banda Aceh sampai di belahan Timur di kota Manado terbentang lapangan golf dengan beragam design dan tentunya beragam tantangan pula.

Belasan hektar diperlukan untuk suatu lapangan dan ratusan pekerja dikerahkan untuk mengoperasikannya. Belum lagi penyediaan fasilitas-fasilitas tambahan lainnya misalnya kolam renang, fitness center, musholla dll. Golf memang sudah hampir menjadi kebutuhan para eksekutif sehari-hari. Tiada bisnis rasanya yang tidak dapat didiskusikan di lapangan golf sambil memukul si bundar kecil yang keras itu, dan berjalan menikmati udara terbuka dan areal yang luas menghijau itu.

Selain tempat bertukar pikiran dan bisnis, sebagai salah satu cabang olahraga golf pun tetap bertahan sebagai cabang yang banyak digemari. Di Indonesia saja sudah rutin diselenggarakan kejuaraan baik berskala nasional maupun internasional. Sebagai olahraga memang golf ini melatih ketenangan dan kesabaran, juga latihan pernapasan dan kekuatan kaki. Bayangkan, sekali bermain 18 holes, sekitar 6-7 km sebenarnya jarak yang dijalani oleh para pegolf.

Supaya tidak semakin katro dan ndeso, setidaknya mengikuti budaya massa di era global ini, berikut ini ada sedikit tips supaya ‘pinter’ main golf.

1. Terlahir sebagai anak caddie,
Terlahir sebagai anak caddie, tinggal dekat lapangan golf mungkin tips terbaik untuk menjadi pemain golf yang handal. Tiger Woods adalah contoh terbaik untuk tips ini. Lahir dari pasangan Afro-Amerika-Thailand, Tiger sejak kecil sudah dilatih golf oleh sang ayah.

2. Belajar swing pertama umur 5 tahun,
Driving range umumnya diisi orang yang ‘tua’ dan anak-anak kecil. Anak-anak kecil ini kelak akan menjadi pemain golf yang handal. Panjang lingkar perut anda menentukan kualitas swing yang dihasilkan. Seperti dalam terminologi olahraga manapun: ‘lebih cepat dilakukan lebih baik’.

3. Punya tetangga penggemar golf,
Tetangga, memungkinkan anda berangkat ketempat golf bersama-sama (baca: nebeng). Tetangga, paling tidak meyakinkan istri anda bahwa anda berangkat bersama si tetangga memang untuk bermain golf. Bukan ketempat-tempat yang aneh-aneh.

4. Punya teman kantor penggila golf,
Golf itu olahraga pagi, tee off untuk turnamen dilakukan jam 5.30. Driving paling menyenangkan juga dilakukan pagi hari. Dengan punya teman kantor penggila golf, paling tidak jadwal untuk bermain golf sudah disesuaikan dengan jam kantor. Iya kan, kecuali kita eksekutif tingkat tinggi yang fleksibel waktunya.

5. Punya sahabat pencinta golf,
Swing pertama anda mungkin sangat memalukan, mungkin butuh berkali-kali latihan untuk melihat bola hanya meluncur 10 m, sementara anak kecil disamping anda sudah melambungkan bola golf entah kemana. Sahabat baik memungkinkan anda mencintai golf lebih cepat.

6. Punya (life) consultant juga pengagum golf,
Golf is a game of controlled emotion, golf is a game of confidence, golf is about integrity, about honour. Dan segala jargon-jargon populer lain tentang golf. Pelajaran-pelajaran awal tentang golf adalah pelajaran tentang prinsip-prinsip kehidupan. Golf paling tidak mengajarkan kita untuk percaya diri dan menghargai orang lain. Dalam banyak hal, nilai-nilai dalam golf bisa membantu kita menjalani hidup lebih baik. Atau sebaliknya, dengan hidup yang lebih baik kita bisa memainkan golf dengan lebih cantik.

7. Punya pacar/istri yang mengerti bahwa pacar/suaminya mulai mencintai golf.
Golf is very time consuming, paling tidak kalau harus mengikuti turnamen. Tapi, pun hanya meluangkan waktu sabtu/minggu untuk sekedar driving. Buat beberapa orang, melihat suaminya pergi ‘bersenang-senang’ bisa jadi membuat suasana jadi kesal. Dukungan istri, sudah dipastikan membuat pikiran anda lebih tenang dan swing pun menjadi lebih baik.

8. Punya anggaran khusus perbulannya untuk main golf. 
Peralatan golf dan green fee butuh biaya yang tidak sedikit, kecuali kalau dibayarin. Belajar golf dari kecil juga costly karena begitu tubuh meninggi/membesar, mesti ganti stick. Apalagi di Indonesia masih gagap budaya, sebelum main membanding-bandingkan stick dulu, apa brandnya? Beli di mana? Shaftnya nippon made bukan? Meskipun demikian, untuk tahap awal belajar golf memang tidak perlu bergantung pada brand. Pakai yang murah juga bisa karena tahap awal kita belajar how to right swing. Sekarang, dengan semakin banyak dibangunnya lapangan golf maka akan semakin murah green fee-nya. Bila Anda tidak punya anggaran khusus, pintar-pintarlah berteman supaya Anda bisa diajak main gratis.

9. Mencari lapangan golf yang baik. 
Di antara banyak alasan kenapa permainan jelek atau tidak berkembang adalah kondisi lapangan golf yang murah. Mulai dari kualitas rumput fairway-nya yang jelek lah –tidak terlihat perbedaan antara rumput di fairway dan di rough; kualitas green-nya yang jelek-lah. Berbeda kondisinya main golf di lapangan yang tarifnya mahal. Rumputnya lebih bagus, green-nya juga oke. Pendek kata, rasanya plong sekali pas memukul bolanya.

Kalau biasanya nge-drive dari tee-box di lapangan yang murah selalu meleset ke sana kemari, dan bahkan tidak melaju kencang bolanya. Di lapangan yang mahal drive pun jadi lebih oke dan jauh. Pun ketika memukul bola dari fairway, terasa lebih enak dan lebih mantap. Chip-shot pun jadi lebih terukur dan terarah karena rumput yang lebih bagus. Juga ketika menyelesaikan satu hole dengan putting di green, juga lebih terarah dan terukur. Bagi sebagian kalangan, kondisi ini sudah menyangkut psikologis, bahwa nyangkul di lapangan yang lebih mahal itu jauh lebih enak. Meskipun skor tidak berbeda jauh antara main di lapangan murah maupun mahal, setidaknya bisa berkata, “Biar skor jelek, yang penting puas.” Ada prestise tersendiri yang dialami golfer dengan sesuatu yang ‘mahal’ dan ‘eksklusif’, meskipun mungkin itu hanya ada dalam benaknya sendiri.

0 komentar:

Poskan Komentar